Public Relations

Jumat, 20 April 2012
  • Sejarah Public Relations ( PR )
1. Berapa Usia Keberadaan PR ?
sering dikatakan bahwa PR merupakan  suatu bidang baru yang muncul beberapa tahun yang lalu ,katakanlah sejak berakhirnya Perang Dunia Kedua, atau pada permulaan abad ke-20. kesan seperti ini terutama terdapat dinegara-negara yang baru meraih kemerdekaan selama tiga puluh tahun terakhir.
   sedangkan di negara-negara yang sudah sejak lama merdeka dan bahkan telah mencapai status negara industri, pendapat umum yang ada mengatakan bahwa PR merupakan hasil penemuan Amerika Serikat.
Sebenarnya, berapakah usia keberadaan PR ? benarkah PR merupakan temuan Bangsa Amerika?
PR sudah ada jauh sebelum Amerika ada. Orang Amerika memang menciptakan banyak hal yang hebat seperti Mickey Mouse, Coca Cola. Hollywood. tetapi bukan orang amerika yang menemukan PR.
  • Apa yang dimaksud dengan PR ?
Makna Public Relations tergantung bagaimana ada menafsirkannya. Didalam kehidupannya sehari-hari, kita sering kali harus menerima dan memahami suatu kondisi yang tidak menyenangkan, serta harus mampu menjelaskannya kepada orang-orang lain.
sebagai contoh, sulit rasanya bagi semua orang entah itu para pekerja, pemberi kerja atau pemilik perusahaan, penumpang umum maupun pihak pemerintah. Untuk menemukan suatu aspek yang menyenangkan dari terjadinya pemogokan masal diperusahaan kereta api. Pemogokan itu, ditinjau dari berbagai segi, tetap saja merupakan suatu musibah yang tidak menyenangkan bagi semua pihak yang berkepentingan. Dalam kegiatan PR, kita sering kali dituntut untuk menjelaskan sebab-sebab terjadinya musibah atau yang tidak menyenangkan seperti itu kepada orang lain. Dalam kenyataanya, manajemen krisis telah menjadi tugas pokok PR.
Jadi, mari kita perjelas dahulu makana sesungguhnya dari konsep PR, sebelum kita beranjak lebih jauh membahas soal usia keberadaannya. Terdapat begitu banyak definisi PR. Namun pada intinya, PR senantiasa berkenaan dengan kegiatan penciptaan pemahaman melalui pengetahuan, dan melalui kegiatan-kegiatan tersebut diharapkan akan muncul perubahan yang berdampak.
Dengan demikian , PR adalah Suatu bentuk Komunikasi yang berlaku untuk semua jenis organisasi, baik itu bersifat komersial,maupun non komersial, disektor public (pemerintah) maupun privat ( pihak swasta). Berdasarkan definisi ini, kita segera menyadari bahwa pengertian PR itu jauh lebih luas daripada definisi periklanan atau pemasaran; dan keberadaanya jauh lebih awal.

kucing Hoki (maneki neko)

Rabu, 18 Januari 2012
Ini patung kucing yang lucu. Bentuknya mungil dengan satu tangan yang terangkat ke atas. Yang menggemaskan, tangan si kucing selalu bergerak seolah sedang melambai. Para pedagang dan pemilik toko percaya, kucing berwarna putih atau keemasan, antara lain bertuliskan "mendatangkan uang memasukkan benda pusaka", ini bisa menarik pelanggan untuk datang dan berbelanja. Karenanya, patung kecil ini biasa diletakkan di dekat pintu masuk toko atau meja kasir.


Tapi harus saya katakan, ini hanyalah mitos. Ramai tidaknya sebuah pusat perbelanjaan bukan disebabkan oleh lambaian tangan patung seekor kucing, melainkan karena usaha dan kerja keras pemiliknya.
Menariknya, patung kucing yang sedang melambaikan tangan, itu sebenarnya berasal dari Jepang. Dikisahkan pada masa Edo (江戶) sekitar 1615-1623 Masehi, di Distrik Setagaya, wilayah Han Hikone terdapat sebuah kuil tua bernama Gotokuji (宏德寺). Pemimpin kuil memiliki seekor kucing bernama Gyoku (玉). Meskipun hidup kekurangan, ia tak pernah lupa memberi kucingnya makan.
Tetapi suatu malam, kepala kuil betul betul kehabisan makanan. Tanpa sadar ia berkata kepada kucingnya yang sedang tidur, "Kau tentu tahu betapa miskinnya kita, apakah kau memiliki jalan keluar?" Si kucing rupanya tidak sepenuhnya tidur, ia mendengar keluhan tuannya. Lalu tanpa mengeluarkan suara, kucing tersebut berjalan keluar.
Keesokan harinya hujan turun dengan lebatnya. Seorang pejabat bernama Li Naotaka (井伊直考) yang sedang berjalan jalan, berteduh di depan kuil. Tetapi di depan pintu ia dikejutkan oleh seekor kucing yang melambai lambaikan tangan kepadanya. Terbujuk rasa ingin tahu, ia mengikuti kucing tersebut masuk ke dalam menuju altar utama. Kilat menyambar, pohon di dekat pintu kuil, lalu tumbang.
Petinggi Li Naotaka yang merasa terhindar dari musibah berterima kasih kepada kucing dan menjadikan kuil tersebut sebagai tempat beribadah keluarga. Setelah Li Naotaka meninggal, kuil Gotokuji berganti nama menjadi Manekineko-do (豪德寺). Di kemudian hari, kuil yang menjadikan kucing sebagai dewa rezeki itu dikenal sebagai Kuil Kucing.
Menurut cerita, di daerah itu juga tinggal seorang nenek yang memelihara seekor kucing. Karena tidak bisa memberi makan, terpaksa ia memberikan binatang peliharaannya itu pada salah seorang kerabat. Tapi malamnya ia bermimpi, kucingnya itu menyuruh si nenek membuat boneka kucing supaya mendapatkan banyak uang.
Sang nenek menurutinya. Ia membuat patung kucing dan meletakkannya di altar. Dan entah bagaimana, kabar gembira datang silih berganti. Hidup si nenek tak lagi bergantung pada orang lain. Para tetangga yang mengetahui hal itu pun ramai ramai datang meminjam patung kucing. Karena banyak permintaan, si nenek meminta perajin membuat patung patung kucing yang sama. Ia lalu membuka sebuah toko khusus yang menjual patung kucing. Bisnisnya sangat laris dan terkenal hingga ke mana-mana!
Itulah asal-usul patung kucing melambai yang sekarang menjadi alat feng shui. Lalu setelah mengetahuinya, masihkah Anda menggantungkan keberuntungan pada patung seekor kucing?
______________
Catatan Tim AndrieWongso.com:
Xiang Yi adalah seorang penulis dan ahli ilmu fengshui. Tulisan di atas, diambil dari bukunya, "Membongkar Mitos Feng Shui" (BiP/2007).

5 Cara Membuat Kesan Pertama yang Baik di Kantor

Jakarta - Ketika baru pertama kali masuk kantor, sebagai karyawan baru Anda sebaiknya memberikan kesan yang baik. Kesan pertama ini penting untuk memudahkan Anda berinteraksi dan bersosialisasi dengan bos dan rekan kerja.

Bagaimana caranya membuat kesan pertama yang baik. Lima pakar dalam dunia kerja memberikan lima tipsnya untuk Anda, seperti dikutip dari Real Simple:

1. Jangan banyak berbicara

Pendiri situs firstimpression yang juga menulis buku berjudul serupa Ann Demarais, PH.D menyarankan, agar Anda stop terlalu banyak bicara. Saran tersebut diberikannya karena tak sedikit orang memiliki kebiasaan menyampaikan informasi yang tak berujung pada pertemuan pertama.

Pada dasarnya hal yang perlu dilakukan yaitu cukup dengan sekadar menyapa dan memberikan senyuman atau menanyakan hal yang sederhana, misalnya seperti menanyakan tentang kesibukan apa yang sedang dihadapi pada saat itu. Dengan tidak terlalu banyak bicara, Anda tetap dapat melakukan interaksi dengan sesama rekan kerja satu kantor dan memperlebar relasi Anda tanpa dicap sebagai si cerewet.

2. Jadilah diri sendiri apa adanya

Menurut Lucila McElroy pendiri situs motivator, WeAreMomentum.com, menjadi diri sendiri dan tampil apa adanya merupakan cara yang patut dilakukan saat baru pertama kali bertemu dengan seseorang. Dengan begitu Anda akan tampak natural tanpa harus berlakon menjadi orang lain atau dibuat-buat.

Memang merupakan hal yang wajar jika kita ingin tampil sempurna di depan bos atau rekan kerja. Namun dengan menjadi diri sendiri akan membuat mereka justru lebih menghargai Anda secara keseluruhan tanpa adanya omongan-omongan yang tidak enak di belakang Anda. Percayalah bahwa manusia tidak ada yang smepurna, meskipun Anda memiliki kekurangan tapi mereka akan lebih menghargai karena memang itulah diri Anda yang sebenarnya.

3. Sebut nama lawan bicara Anda

Jika Anda berinteraksi dengan rekan kerja yang belum begitu dekat dengan Anda, sosiolog asal University of Southern California, Julie Albright, menyarankan, jangan menyebutnya dengan kata "kamu". Namun sebutlah nama lawan bicara Anda tersebut.

Cara tersebut membuat mereka merasa istimewa layaknya seperti Anda terbiasa dengan mereka. Apabila Anda termasuk orang yang sulit menghafal nama orang yang baru dikenal, jangan hanya berhenti di situ saja, biasakan untuk menyapanya terus setiap bertemu di kantor. Dengan begitu Anda akan terus mengenalinya dan dapat berhubungan dengan baik.

4. Rendah hati

Menurut Ben Dattner, seorang psikolog dan penulis "The Blame Game", kebanyakan orang saat diwawancara kerja terlihat begitu mementingkan diri sendiri bahkan terkadang suka terlalu berlebihan dalam mempromosikan dirinya. Sebaiknya tetaplah menjadi orang yang rendah hati dan membiarkan orang lain tahu bahwa Anda menganggap diri Anda manusia biasa yang memiliki kekurangan.

5. Menghargai lawan bicara

Apabila sedang berinteraksi dengan rekan kerja, penulis buku 'What Every Body Is Saying', Joe Navarro mengatakan, jangan pernah Anda menunjukkan ekspresi wajah netral seolah-olah tidak tertarik dengan topik pembicaraan yang sedang dilontarkan oleh rekan kerja. Salah satu cara terbaik untuk membuat kesan pertama yang baik yaitu dengan menghargai lawan bicara Anda. Sebagai pendengar, tunjukkan bahasa tubuh yang memang menunjukkan Anda mendengarkan lawan bicara Anda. Misalnya, mengangguk atau tersenyum saat Anda memahami dan setuju pada ucapannya.